Ajarlah Kami Menghitung Hari-Hari Kami

AJARLAH KAMI MENGHITUNG HARI-HARI KAMI

(MAZMUR 90 : 1 – 12 )

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Minggu ini kita memasuki minggu Tutup Tahun Gerejawi, yang sekaligus minggu Peringatan akan orang-orang yang telah meninggal. Dalam penghayatan dan kesaksian iman umat percaya, kita menyakini dan menyadari akan kekekalan Allah yang hidup selama-lamanya, dan keterbatasan serta kerapuhan kita, umat manusia ciptaan-Nya. Kiranya kita disadarkan untuk merenungkan tentang akhir hidup kita serta memercayai kebangkitan kita kelak, pada kedatangan-Nya. Bilapun tubuh jasmanih kita semakin renta; namun iman kita terus kokoh pada-Nya sang sumber kehidupan. Pada Minggu ini, kita didasari dengan seruan tema Ajarlah kami menghitung hari-hari kami dengan tujuan agar kita semakin bijaksana di setiap langkah kehidupan kita bersama. Menelusuri dan menggapai hal itulah firman ini mengajak kita agar kita memiliki:

Hati yang menyadari hanya TUHAN tempat perteduhan (ay. 1-2)

Sikap hati bijaksana yang pertama dan utama ditandai dengan kesadaran bahwa hanya TUHAN tempat berteduh. Situasi seperti sekarang sungguh membuat kita melihat bahwa tidak ada tempat yang dapat menjadi tempat kita berteduh selain dalam Tuhan Yesus Kristus. Musa dalam doanya pada ayat 1 dan 2 ini memberikan dua gambaran tentang TUHAN tempat perteduhan itu. Pertama Ia adalah Juru Selamat dan kedua Ia adalah Pencipta. Sebagai Juru Selamat Allah bekerja di dalam waktu, sedangkan sebagai Pencipta Allah bekerja di luar dan mengatasi waktu. Menyadari dan mempercayai bahwa Allah tempat perteduhan kita itu adalah Juru Selamat dan Pencipta akan membuat kita dapat tetap tenang dan bersemangat menghadapi situasi saat ini. Ketika kita bertanya sampai kapan TUHAN masalah ini? Kita diingatkan bahwa Allah bekerja di luar waktu dan mengatasi waktu, sehingga kita diyakinkan bahwa semua pasti indah pada waktunya, tinggallah kita terus beriman dan berteduh kepada-Nya.

Hati yang menyadari kerapuhan manusia (ay. 3-6)

Musa dalam doanya pada bagian ini menyadarkan kita bahwa kita begitu fana dan rapuh. Kesadaran akan hal ini merupakan ciri kedua dari hati yang bijaksana. Pada situasi seperti saat ini karena Pandemi Covid-19, kita melihat korban-korban berjatuhan, bahkan mungkin beberapa adalah kerabat kita. Sepertinya mereka sehat, kuat, bahkan ada yang dokter dan hamba TUHAN yang kita tahu punya kesaksian iman yang baik, namun pada akhirnya melalui Covid 19 ini mereka menghadap sang Pencipta. Pilunya lagi, mereka dikuburkan dalam kesenyapan, tidak ada banyak orang atau kerabat yang boleh hadir. Di sini kita bisa melihat betapa fananya kita. Kefanaan manusia itu seperti rumput yang di waktu pagi berkembang dan tumbuh, namun di waktu petang lisut dan layu. Situasi saat ini menyadarkan kita bahwa kefanaan itu tidak mengenal status, kekayaan, kedudukan dan kepintaran dan pada akhirnya kita semua akan dikembalikan menjadi debu lewat panggilan ilahi: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” (ay.3)

Hati yang menyadari dahsyatnya murka Allah (ay.7-12). Hati yang bijaksana ditandai juga dengan kesadaran bahwa Allah bisa murka dan murkanya itu dahsyat. Musa menggambarkan bagaimana manusia tidak akan bisa berlari dari murka Allah. Tetapi, ingat kehangatan murka Allah itu untuk “mengejutkan” kita (ay.7b) Murka atau amarah TUHAN itu bertujuan untuk menyampaikan atau mengingatkan kembali sebuah pesan bagi umat-Nya. Situasi saat ini “mengejutkan” kita, menyadarkan kita kembali sebagai umat TUHAN untuk sungguh kembali kepada-Nya, sungguh membangun relasi personal bersama dengan TUHAN. Untuk beberapa waktu kita tidak akan bisa bersekutu bersama secara sosial dan fisik di gereja, bahkan umat beragama lain pun tidak bisa pergi ke tempat ibadah-Nya. Kita dibawa kepada keadaan dimana kita harus bertanggung-jawab secara personal dan keluarga untuk membangun relasi dengan TUHAN. Gereja pun dipaksa untuk mengoreksi kembali agenda-agendanya dengan menyesuaikannya dengan pesan dan maksud TUHAN lewat pandemi Covid 19 ini.

Sekali lagi murka atau amarah TUHAN itu bertujuan untuk menyampaikan atau mengingatkan kembali sebuah pesan bagi umat-Nya, oleh karena itu pada akhir bagian ini Musa berseru: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (ay. 12). Menghitung hari berarti sebagai orang percaya kita mengingat kembali bagaimana kita menjalani hari-hari kita, bagaimana kita menggunakan hari-hari yang TUHAN berikan, dan bagaimana kita mempertanggung-jawabkan setiap waktu yang TUHAN berikan. Ingat suatu saat kita akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Benar sebagaimana Alkitab menuliskan: “kita akan menghadap tahta Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah”. (Roma 14:10).“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus” (2 Korintus 5:10), dan pada saat itu kita harus mempertanggung-jawabkan hari-hari kita. Oleh karena itu, marilah semakin berhikmat dan bijaksana mengisi hari kehidupan kita, supaya kita semakin sadar akan kekekalan Allah, dan akan kerapuhan dan kefanaan kita, TUHAN menguatkan dan menopang kita memahami dan mengerti seluruh maksud-maksud-Nya. Selamat menyambut minggu-minggu Advent. TUHAN membekati. WBP-hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form