Menyambut Kedatangan Tuhan Dalam Kekudusan

 

 

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu Advent I 28 Nopember 2021

MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN DALAM KEKUDUSAN

(1 Tesalonika 3 : 9 - 13)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, kini kita telah memasuki Minggu Advent I, yang mengajak kita untuk mempersiapkan, hati, pikiran, iman dan seluruh aspek kehidupan kita untuk sungguh-sungguh dalam sukacita dan kebersediaan menyambut Sang kehidupan, Juruslamat Yesus Kristus, melalui peristiwa kelahiranNya. Dalam minggu Advent yang pertama ini berkumandang bagi kita seruan untuk menyambut kedatanganNya dalam kekudusan; supaya mempunyai hidup yang tak bercacat dengan semua orang-orang kudus. Umat Tuhan, melalui pembacaan firman Tuhan diperlihatkan kerinduan yang sangat dalam diri Paulus untuk bertemu muka dengan jemaat Tesalonika, namun karena terhalang mendorongnya untuk mengutus Timotius dengan maksud agar daripadanya ia mendapatkan informasi yang lengkap supaya Paulus tahu tentang iman mereka, karena ia kuatir kalau-kalau mereka telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha Paulus dan teman-teman sepelayanan menjadi sia-sia (3:5). Di luar dugaan Paulus, ternyata Timotius membawa kabar baik: Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu (3: 6)

Perlu disampaikan, bahwa kejadian di Tesalonika ketika Paulus berada di sana telah mengakibatkan sebuah kerusuhan; dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 17; mengungkapkan peristiwa yang terjadi dimana orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan dengan dibantu oleh beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar, mereka mengadakan keributan dan mengacau kota itu. Mereka menyerbu rumah Yason dengan maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat. Tetapi ketika mereka tidak menemukan keduanya, mereka menyeret Yason dan beberapa saudara kehadapan pembesar-pembesar kota; Orang-orang yang telah mengacaukan seluruh dunia telah datang juga kemari, Paulus dan Silas dituduh telah menjadi pengacau; dan mengatakan bahwa ada seorang raja lain yaitu Yesus Kristus, selain Kaisar. Situasi dan keadaan ini membuat Paulus dan Silas meninggalkan Tesalonika. Situasi dan keadaan inilah membuat mereka terpisah dan hati Paulus terus diliputi pergumulan tentang bagaimana keberadaan orang-orang percaya di Tesalonika, apakah mereka menjadi takut, bahkan meninggalkan iman mereka; karena tantangan dan kekacauan, yang mengakibatkan kehidupan mereka terancam di kota itu. Akan tetapi, kehadiran Timotius kembali untuk menyampaikan hal jemaat Tesalonika kepada Paulus, benar-benar melahirkan sukacita yang besar baginya.

            Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan, kabar baik yang disampaikan oleh Timotius di sini ada dua: Pertama, orang-orang percaya di Tesalonika berdiri teguh, tanpa bantuan dari luar mampu menghadapi kesengsaraan besar masih menjaga kokoh iman mereka. Pekerjaan yang pernah dilakukan Paulus di antara mereka tidaklah sia-sia. Kedua, mereka tidak menggerutu atas kepergian Paulus yang tiba-tiba, tidak berpikir bahwa Paulus bersalah kepada mereka dan membentuk jurang pemisah dengan dia, tetapi mereka masih sangat merindukannya, berharap untuk bertemu dia lagi. Dengan kata lain, persahabatan di antara mereka tidak berkurang. Bagi Paulus, kabar baik pertama itu penting, tetapi orang tua selalu ingin anak-anak mereka tumbuh dan menjadi lebih baik bukan menjadi buruk, tetapi kabar baik kedua juga sangat penting baginya, meskipun kepergiannya bukan karena kemauannya, tetapi hatinya memang penuh dengan rasa bersalah terhadap anak-anak yang ia tinggalkan pergi. Sekarang anak-anak tidak membencinya, tetapi masih merindukannya, bagaimana mungkin dia tidak diliputi kegembiraan sukacita yang demikian besar! Paulus menyatakan respons langsung dirinya: maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan (3:7-8). Pada saat ini Paulus sendiri juga menghadapi berbagai kesulitan dan kesengsaraan, dan hidupnya tidak mudah; tetapi setelah mendengar kabar baik dari orang percaya Tesalonika, hatinya lega seperti melepaskan beban batu besar, merasa bahwa ada harapan di depan, karya-karya Allah sangat indah dan ajaib. Pada saat orang berpikir sudah putus asa, Tuhan membuka jalan lain. Tidak ada jalan buntu bagi Allah, ini membawa penghiburan dan kekuatan bagi iman mereka. Paulus mengarahkan penghargaannya terhadap Tesalonika menjadi pujian kepada Allah: Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? (3:9) Itulah sebabnya ia banyak mencurahkan waktu untuk memuji dan berterima kasih kepada Allah dalam bagian Alkitab ini.

            Pada akhirnya, Paulus berkata dengan penuh cinta kasih: rencana cadangan bukanlah rencana semula, dia masih berdoa kepada Tuhan untuk membuka jalan baginya untuk kembali ke Tesalonika, bersatu kembali dengan saudara-saudaranya, dan membimbing mereka secara pribadi, sehingga iman mereka dapat menjadi Kokoh. Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu (3:10-11). Kita tahu bahwa keinginan Paulus untuk mengunjungi kembali Gereja Tesalonika akhirnya dipenuhi oleh Allah. Menurut kelanjutan dari Kisah Para Rasul, setelah pekerjaan pengabaran Paulus di Korintus dan Efesus selesai satu tahap, dan ia kembali ke Makedonia (Kis. 19:21; 20:1-2), dan kemudian di lain waktu ia pergi satu kali lagi (Kis. 22:2-6). Dalam kedua perjalanan ke Makedonia, semestinya ia meluangkan waktu untuk mengunjungi orang-orang percaya di Tesalonika dan menggembalakan mereka secara langsung. Terakhir Kisah Para Rasul mencatat bahwa ketika Paulus bepergian ke Asia, dua orang Tesalonika menemani dia (Kis. 20:4). Ini membuktikan bahwa ia menjaga hubungan dekat dengan orang-orang percaya Tesalonika, dan bahkan bekerja sama dalam pelayanan. Bagaimanapun, Tuhan telah menjawab doa Paulus. Paulus juga menyebutkan harapan lain bahwa kasih mereka akan tumbuh cukup untuk mengasihi anggota tubuh gereja dan orang-orang di luar gereja. Dengan cara ini, iman mereka sempurna. Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. (3:12-13). Seruan dan pernyataan inilah yang berkumandang di Minggu kita hari ini, yaitu menyambut kedatangan Tuhan dalam kekudusan, ditengah segala situasi yang bisa menggiring kita untuk menajiskan atau mencemarkan kehidupan kita. semakin ke depan kita sungguh-sungguh semakin memperlihatkan sikap hidup yang terus mencerminkan keinginan dan kehendak Allah. Pada pasal berikutnya (pasal 4), Paulus menjelaskan tentang pengudusan itu, yang menjadi kehendak Allah yaitu : menjauhi percabulan, menjadi pasangan-pasangan yang kudus dan terhormat, tidak memperdaya saudara atau sesama, tidak melakukan kecemaran, hidup dipimpin oleh Roh Kudus, memelihara kasih persaudaraan sebagai sebuah kesiapan menyambut kedatanganNya. Selamat Minggu Advent Tuhan memberkati. BWP-hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form