HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu Advent III, 12 Desember 2021

BERSUKACITALAH, TUHAN ADA DIANTARA KITA

(Zepanya 3 : 14 – 20 )

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, Teks ini merupakan ajakan untuk bersukacita dan bangkit kembali (ay. 14, 16), setelah sekian lama umat Tuhan berada dalam kondisi yang terpuruk, baik sosial politik, ekonomi, keadilan, moral, dan spiritual. Keterpurukan ini semakin menyedihkan ketika Allah menghukum umat-Nya sendiri yang sudah hidup jauh dari kehendak Allah. Hukuman itu hendak mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindar dari hukuman Tuhan, baik umat Allah maupun bangsa-bangsa lain. Tetapi, sekarang umat Tuhan diajak untuk bersukacita karena masa-masa keterpurukan itu sudah berlalu. Allah sendiri berinisiatif untuk memulihkan, membebaskan, dan menyelamatkan umat-Nya. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi rencana kasih Allah bagi umat-Nya, bahkan bagi siapa pun. Umat Tuhan, lalu, apa yang Allah lakukan? Pemulihan seperti apa yang Dia lakukan yang olehnya umat Tuhan patut bersukacita?. Kita melihat berbagai hal yang Allah perbuat; yaitu :

-         Penghukuman digantikan dengan kehadiran dan pemerintahan Allah (ay. 15). Artinya, penghukuman yang selama ini dialami oleh umat Tuhan dan dipahami sebagai ketidakhadiran Allah di antara mereka, sekarang Allah sendiri membuktikan bahwa Dia tetap hadir dan memerintah umat-Nya itu. Kehadiran Allah ini mendatangkan sukacita besar, mendatangkan rasa nyaman dan aman, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri umat Tuhan. Siapa yang tidak senang dan bersukacita kalau sang Pelindung dan Pengayom hadir dalam hidupnya?

-         Malapetaka, musuh, ancaman, dan penindas digantikan dengan kemenangan (ay. 15, 16, 18, 19). Kalau sebelumnya umat Tuhan mengalami penindasan, hidup di bawah ancaman musuh-musuh mereka, dan selalu mengalami kekalahan, sekarang Allah mendatangkan kemenangan bagi mereka; dan kemenangan ini merupakan suatu sukacita besar yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun.

-         Cela dan malu digantikan dengan kenamaan dan pujian (ay. 18, 19). Secara psikologis, kekalahan dan pembuangan yang dialami oleh umat Tuhan mendatangkan cela dan rasa malu yang luar biasa, apalagi kalau diperhadapkan dengan status mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan. Betapa cela dan malunya mereka! Sekarang, dengan kehadiran dan pemerintahan Allah, cela dan rasa malu itu digantikan dengan kenamaan dan pujian; status mereka sebagai umat Tuhan yang sempat pudar/redup, kini dipulihkan seperti sedia kala ketika bangsa itu terkenal di mana-mana.

-         Ketakutan dan kelemah-lesuan digantikan dengan pembaharuan dan pemulihan holistik (menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar, dan pemulangan ke tanah perjanjian, ay. 16, 17, 19). Sungguh tidak enak hidup di bawah ancaman orang lain, atau ancaman si(apa) pun, sungguh tidak enak hidup dalam ketakutan; tetapi itulah yang dialami oleh umat Tuhan ketika mereka mendapat hukuman Tuhan. Siapa yang tidak merindukan kebebasan dari rasa takut dan kelemah-lesuan itu? Dan Tuhan tahu situasi ini; karenanya Dia melakukan pembaharuan dan pemulihan holistik. Kalau Tuhan sendiri hadir dan memerintah mereka, tentu rasa takut dan kelemah-lesuan tidak ada lagi; kalau Pelindung yang sejati sudah ada, apa lagi yang perlu ditakuti? Kalau Penyelamat itu datang mengumpulkan dan memulangkan mereka ke tanah perjanjian, apa lagi yang perlu dikuatirkan? Apalah kelemah-lesuan, apalah ketakutan, apalah kepincangan dan sejenisnya, bila dibandingkan dengan kasih Tuhan yang begitu besar? Rasul Paulus pernah mengekspresikan bagaimana kasih Tuhan itu dapat mengalahkan segalanya: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”(Roma 8:35, 38-39).

Itulah gambaran pemulihan yang dilakukan oleh Allah bagi umat-Nya! Jadi, siapakah yang tidak bersyukur dan bersukacita atas pemulihan tersebut? Siapakah yang tidak akan bersorak-sorai kalau keadaannya yang terpuruk dipulihkan secara luar biasa oleh Tuhan? Dalam rangka sukacita karena pemulihan seperti inilah Zefanya mengajak kita untuk bersukacita. Kita mesti bersukacita; karena Tuhan hadir dan ada ditengah-tengah kita, Dia melakukan segala kebaikan dan kemurahan, bahkan ditengah situasi yang kita hadapi ini. vaksinasi yang masif menjadi cara Tuhan untuk mendatangkan sukacita, ketaatan pada protokol kesehatan; serta senantiasa menjaga kesehatan jasmanih dan rohanih kita, dan kita percaya; ke depan kita akan semakin bersukacita, karena Allah tidak akan pernah membiarkan umatNya, ciptaanNya dalam penderitaan yang berkepanjangan, selamat bersukacita menikmati kehadiran Allah hari lepas hari dalam kehidupan kita. Tuhan memberkati. BWP

wajah web201903

Login Form