HKBP Yogyakarta Online 

Renungan Minggu XII Trinitatis, 07 September 2014

 

Diutus Memberitakan Pertobatan!

 

(Yehezkiel 33:7-11)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Konfesi (Pengakuan Iman) Huria Kristen Batak Protestan tahun 1951 pasal 8 dan tahun 1996 pasal 7 mengenai Gereja, menegaskan bahwa ada 3 (tiga) pertanda Gereja yang benar, yakni: (1) Bila Injil diberitakan dengan murni; (2) Bila Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus dilayankan dengan benar; dan (3) Bila Hukum Penggembalaan dan Siasat Gereja (Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon) dilaksanakan dengan benar. Sebagaimana diketahui bahwa ada persekutuan warga gereja yang mengaku modern, tetapi cenderung me-museum-kan tuntutan Hukum Taurat misalnya, karena dianggap tidak relevan untuk diberlakukan dalam ‘gaya hidup’ modern. Nah, hal ini amat berbahaya dan mesti dilawan dengan cara menegakkan rangkaian hukum-hukum penggembalaan dan siasat gerejawi untuk memelihara kekudusan persekutuan gereja itu sendiri, karena Kristus Yesus, Pemilik Gereja, adalah kudus.

Yehezkiel – yang arti namanya ‘TUHAN menguatkan - adalah nabi yang diutus oleh TUHAN untuk menyampaikan berita penghukuman dan pertobatan kepada umat Perjanjian Lama dan maknanya bagi kita kini. Situasi dan kondisi kehidupan yang dihadapi oleh Yehezkiel saat itu digambarkan seperti ‘tinggal di tengah onak dan duri dan dekat kalajengking yang membahayakan (Yeh. 2:3,6-7). Namun, singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat? (Amos 3:8). TUHAN pun mengutus nabi Yehezkiel.

Secara khusus, Allah menyapa nabi Yehezkiel dengan gelar anak manusia dan penjaga.TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan memegang sebuah gulungan kitab dan membentangkannya di hadapan nabi Yehezkiel. Gulungan kitab itu ditulis timbal balik dan di sana tertulis rangkaian nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Kemudian TUHAN menyuruh nabi untuk “memakan” gulungan kitab itu yang rasanya manis seperti madu (2:9-10; 3:1-3) dan selanjutnya TUHAN mengutus nabi untuk memberitakan Firman-Nya. TUHAN Allah meneguhkan hati Yehezkiel untuk menghadapi dan melawan umat berkepala batu; kemudian mem-baja-kan semangat nabi untuk menentang ketegaran hati umat-Nya yang telah memberontak (Yeh. 2:8). Kemudian TUHAN menetapkan nabi Yehezkiel sebagai Penjaga (Batak: Parjaga; Parhal atau Parhalado). Inti nubuat nabi Yehezkiel,antara lain hendak menyampaikan berita dari Allah mengenai hukuman atas Yehuda dan kota Yerusalem yang sudah murtad, memberontak, dan mendukakan hati TUHAN. Kendati demikian, TUHAN yang tak pernah ingkar janji masih berkenan mengutus nabi Yehezkiel untuk memberitakan Firman-Nya agar umat bertobat dan selamat dari hukuman.

Tugas pokok Yehezkiel sebagai penjaga adalah menegur dan memperingatkan orang jahat (orang berdosa)- demi nama TUHAN - agar bertobat dan tidak mati di dalam dosa dan kejahatannya. Dalam pemberitaan nabi Yehezkiel, sering muncul ungkapan: “Mereka akan tahu bahwa AKU ini TUHAN”. Nas renungan ini menegaskan salah satu tugas pokok hamba TUHAN (baca: Pendeta) sebagai Penjaga rohani (Tohonan Sijaga tondi) terhadap warga jemaat yakni menegur dan menyatakan kesalahan dan dosa umat, kemudian menyerukan pertobatan. Jikalau nabi (Parhalado) tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat supaya bertobat dari hidupnya, kemudian orang jahat itu (akan) mati dalam kesalahannya, maka TUHAN akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawa orang berdosa itu dari nabi (parhalado/pendeta). Tetapi jikalau nabi (parhalado) memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dan kemudian mati dalam kesalahannya, namun nabi (parhalado) telah bebas dari tuntutan Allah mengenai orang berdosa tersebut (Yeh. 33:8-9).

Karena itu, marilah mendengar dan belajar taat pada Firman Allah melalui pemberitaan Firman yang disampaikan oleh para hamba-Nya. Bila mendapat teguran karena dosa dan kejahatan kita, maka janganlah mengeraskan hati, tetapi bertobatlah segera(Ibrani 3:7-11, 15) dan hendaknya mau berdamai dengan Allah. Tuntutan Hukum Taurat dan Hukum Penggembalaan dan Siasat Gerejawi mestilah kita pahami sebagai anugerah untuk merawat proses keselamatan yang telahkita imani agar kita tetap berjalan dalam terang kekudusan dari Allah. Melalui Roh Kudus, Allah telah menaruh Firman-Nya dalam pikiran dan hati kita masing-masing (Yer. 31 : 31-34; Ibr. 8: 8-12) yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Salam tegur dan tobat.**** AAZS

wajah web201903

Login Form