Khotbah Minggu I Setelah Ephipanias, 09 Januari 2022

YESUS ADALAH ANAK ALLAH

Lukas 3:15-17; 21-22

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan kita, Yesus Kristus; terpujilah Nama-Nya yang kudus atas segala Kasih dan Kemurahan-Nya yang selalu diberikan kepada semua kita. Umat Tuhan, hari ini kita merayakan Minggu Pembaptisan Yesus yang mana dalam tahun liturgi, Minggu Baptisan Yesus dihayati setelah Minggu Epifani. Melalui peristiwa pembaptisan Yesus, kita belajar dari Yesus dan Yohanes Pembaptis. Yesus yang adalah Allah merendahkan diri-Nya. Tindakan perendahan Yesus dilakukan melalui kesediaan-Nya dibaptis bersama-sama dengan umat yang berdosa dan membutuhkan pengampunan dosa. Epifani (bahasa Yunani Koine: ἐπιφάνεια, epiphaneia, "manifestasi", "penampakan jelas") atau Teofani (bahasa Yunani Kuno (ἡ) Θεοφάνεια, Τheophaneia berarti "penampakan Tuhan"), atau Hari Raya Penampakan Tuhan adalah sebuah hari raya keagamaan dalam sejumlah denominasi gereja Kristen pada tanggal 6 Januari yang merayakan wahyu Allah sebagai manusia yaitu Yesus Kristus yang telah lahir ke tengah-tengah dunia ini. Kata “Penampakan Tuhan” berasal dari kata epiphaneia (Bhs. Yunani) atau epifani yang secara harafiah berarti penampakan yang mencolok. Kata “epifani” digunakan dalam Perjanjian Lama untuk merujuk pernyataan diri Allah , sedangkan dalam Perjanjian Baru digunakan untuk merujuk kelahiran Kristus atau penampakan-Nya sesudah kebangkitan serta kedatangan-Nya yang kedua (2 Tim 1:10). Dengan demikian, kata “epifani” digunakan untuk merujuk pada penampakan keilahian Allah.

Dari injil Lukas kita menemukan bahwa ketika Yesus sedang dibaptiskan dan berdoa terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya serta terdengar suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Mulah Aku berkenan”. Ada tiga peristiwa menarik untuk kita cermati pada saat Yesus dibaptiskan : Pertama : Sedang berdoa (ay.21). Doa Yesus saat pembaptisan mengawali turunnya Roh Allah dan pernyataan Bapa. Doa yang dinaikkan Yesus merupakan kesatuan diri-Nya dengan Bapa dan karena itu ketika Roh Kudus turun atas-Nya, ke-Mesiasan Yesus sangat tampak. Peristiwa ini sebagai sebuah pelajaran bagi umat untuk seperti Dia yang tetap berdoa. Injil mencatat bahwa meski Yesus adalah Allah, Ia tetap berdoa sebab dengan doa ada kesatuan yang hidup antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kedua : Turunnya Roh Kudus dalam Rupa burung merpati (ay. 21). Burung merpati adalah mahkluk hidup yang sering digunakan dalam peribadatan di Bait Allah. Orang-orang yang sederhana, miskin membawa burung merpati untuk pengorbanan di bait Allah. Roh Kudus yang turun ke atas Yesus adalah kekuatan Allah yang memberdayakan kehidupan dengan cara sederhana, melalui kehidupan sehari-hari. Ketiga : Penegasan Engkaulah Anak-Ku yang terkasih (ay.22). Penegasan ini menunjukkan adanya kesatuan kekal antara Bapa dan Anak. Kesatuan dalam kasih setia yang akan membawa anak-anak Allah beroleh janji keselamatan.

Mendahului baptisan yang dilakukan kepada Yesus adalah orang-orang yang mau memberi dirinya dibaptis oleh Yohanes setelah menyiarkan seruan pertobatan. Setelah itu, tampillah Yesus untuk memberikan diriNya dibaptis. Kita tidak perlu untuk bertanya-tanya, bagaimana mungkin Yesus dibaptis sementara Dia bukanlah orang yang berdosa. Tetapi Yesus harus melakukannya, sebab kedatanganNya adalah supaya berada diantara orang berdosa. Walaupun Yesus dibaptis sebagaimana orang lain juga menerima baptisan Yohanes, namun dapat dilihat bagaimana peristiwa pembaptisan ini adalah suatu “penyataan pribadi Yesus”. Dapat dikatakan bahwa peristiwa tersebut adalah penyataan pribadi Yesus sebagai Mesias. Ia merendahkan diri hadir diantara orang berdosa, tetapi Tuhan meninggikanNya dari sorga dan menyatakan kuasaNya “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”.

Yohanes menyatakan bagaimana Agungnya Dia yang akan datang setelahnya. Sekalipun kita harus menjatuhkan harga diri untuk membuka tali kasutNya kita tidak akan layak. Dia akan datang dengan baptisan Roh dan Api dan alat penampi sudah ada ditanganNya. Namun ternyata keagungan dibayangkan oleh Yohanes sebelumnya tentang Mesias jauh lebih Agung lagi dari apa yang dilakukan oleh Yesus dalam hidupNya. Sebab Yesus telah menyatakan keAgungan Tuhan dalam diriNya yaitu Kasih. Bahkan Ia membasuh kaki murid-muridNya, menderita dan mati di kayu salib. Kehidupan dan ajaranNya telah menjadi alat penampi, untuk memisahkan manusia yang percaya kepadaNya untuk dimurnikan dan dibersihkan dari dosa. Bagi orang percaya, Roh Tuhan ada pada kita, yang dicurahkan supaya dalam kehidupan kita tetap menyala-nyala api yang memberikan semangat, sukacita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Yesus berkenan hadir dalam diri kita, suatu kuasa yang besar dari sorga untuk diri kita. Yesus Kristus, pribadi yang penuh kuasa dari sorga ada bersama-sama dengan kita. Yesus mengatakan “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Yesus memiliki otoritas atas sorga dan bumi, bahkan otoritas atas kepunyaanNya yaitu kita. Ini adalah anugerah Tuhan atas hidup orang yang percaya.   Jika otoritas Tuhan itu bekerja layaknya sebagai ‘penampi’ dalam diri kita, maka tentunya hidup kita akan kita berikan dibawah otoritas Tuhan. Yang membuat keputusan terbaik itu ada pada Tuhan bukan pikiran ataupun perasaan kita. Perbuatan besar yang Tuhan lakukan adalah untuk kebaikan manusia. Dengan merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, kita dapat merenungkannya dalam dua aspek: Allah berkenan menampakkan kemuliaan- Nya kepada manusia, dan manusia yang dilambangkan orang-orang majus, menanggapi pewahyuan tersebut dengan penuh iman dan kasih. Semoga kita semakin bertumbuh dalam iman untuk menanggapi kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari karena Ia adalah Imanuel, Yesus Kristus, Anak Allah, tanda kehadiran Allah atas dunia dan kita umatNya. BWP

wajah web201903

Login Form