Renungan Minggu XIII Trinitatis, 14 September 2014

 

Baik Hidup Maupun Mati, Kita adalah Milik TUHAN!

 

(Roma 14:1-12)

 

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Untuk membantu pembaca, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) memberi judul terhadap perikop Roma 12:1-12 ini dengan “Jangan menghakimi saudaramu”. Almanak HKBP 2014 memberi judul terhadap perikop ini dengan topik: ‘Baik Hidup Maupun Mati, Kita adalah Milik Tuhan’, sebagaimana yang menjadi judul renungan kali ini. Saudara-saudari, kenapa rupanya dengan konteks dan pesan perikop ini?

 

Konteks perikop ini, antara lain, bahwa di lingkungan warga jemaat Kristen Roma pada waktu itu, rupanya muncul selisih paham mengenai hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Beberapa orang di antara mereka hanya mau memakan sayuran (vegetarian), sedangkan yang lain memakan sayuran dan segala makanan, termasuk daging (omnivora). Di antara mereka yang berselisih paham kelihatannya ada yang (saling) menghakimi dan menghina bahkan menganggap dirinya lebih baik atau suci karena makanan bahkan karena menganggap satu hari lebih oke dari hari yang lain. Berkaitan dengan hal ini, rasul Paulus menegaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17). Tidak ada jaminan orang dapat masuk sorga karena makanan dan atau minuman.

Konfesi HKBP 1951 pasal 14 dan 1996 pasal 14 mengenai makanan, sama-sama menegaskan bahwa HKBP percaya dan bersaksi: semua yang diciptakan oleh Allah adalah baik dan kita tidak memantangkan setiap makanan (minuman) yang diterima, asalkan dengan hati yang penuh syukur dan terima kasih. Sebab apa saja yang diterima, menjadi suci oleh karena Firman Allah dan doa. Manusia tidak menjadi kudus karena mengindahkan bermacam—macam pantangan terhadap makanan. Karena imanlah yang menerima kekudusan dari Allah. Kita harus melawan sifat yang dikuasai oleh makanan dan minuman, dan rokok. Tidak boleh Injil dibelakangkan karena berpantang terhadap makanan dan tradisi atau adat (1 Tim. 4:4-5; Mat. 15; Roma 14:17; Kis. 15; Kol. 2:16-23). Begitu kata HKBP berdasarkan Firman Allah.      

Selanjutnya, yang hendak ditegaskan melalui perikop ini adalah bahwa apa pun pilihan dan keputusan yang hendak kita kerjakan, semuanya itu harus kita pertanggung-jawabkan kelak di hadapan takhta peengadilan Allah (Roma 14:10-12; Yes. 45:23). Dan kalau kita mau selamat, mari andalkan hanya karena iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Rom. 1:16-17; Ef. 2:8-10; dll). Rasul Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita pikirkan, kerjakan, dan lakukan hendaknya dihubungkan secara yakin dan penuh syukur kepada TUHAN (ayat 1-6, 23). Sebab, tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Roma 14:7-9). Karena itu, marilah kita berpikir, bertindak, berjemaat, dan berteologi, dengan Kristus sebagai ukuran dan pusat (Kristosentrisme) dan bukan manusia atau makanan/minuman. Biarlah Sabda TUHAN menghakimi kita. Namun, TUHAN YESUS telah memberi otoritas (wibawa) kepada Gereja untuk menyatakan dan memberi jawaban yang tegas terhadap ajaran-ajaran dan perkara-perkara yang muncul dalam jemaat dengan Firman TUHAN sebagai dasar. Dan HKBP telah menerjemahkan ALKITAB dalam bentuk Konfesi, Konstitusi, Hukum Siasat Penggembalaan Gereja (Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon), dll., untuk menentukan hal-hal yang bersesuaian dengan Firman Allah. Salam****.

wajah web201903

Login Form