Renungan Minggu XIV Trinitatis, 21 September 2014

Menjadi ‘Merpati yang Tidak Ingkar Janji’

(Yunus 3:10 - 4:11)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Yunus’ (Ibrani: ‘Yona’) - yang namanya berarti ‘merpati’ - adalah seorang nabi unik yang ‘dipakai’ oleh TUHAN sebagai alat-Nya untuk menyampaikan teguran dan menyatakan belas-kasih-Nya kepada bangsa non-Israel yaitu Assyur. Kitab Yunus menceritakan bahwa TUHAN memanggil dan mengutus nabi Yunus untuk bernubuat, tidak kepada bangsanya sendiri, melainkan kepada suatu bangsa di luar negeri yang dia tidak sukai yaitu Assyur dengan ibu kota Niniwe. Kota ini mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya dengan jumlah penduduk waktu itu lebih seratus dua puluh ribu orang. Karena Yunus tidak suka dengan tugas panggilan itu, maka ia mencoba melarikan diri dari hadapan TUHAN walau sia-sia.

Pengalaman pelariannya sungguh mengherankan dan tak tertandingi. Karena dialah satu-satunya nabi yang pernah ‘nginap’ selama tiga hari dan tiga malam di dalam perut seekor ikan raksasa. Setelah beliau berdoa dari dalam perut ikan, maka ia luput dari hukuman karena belas kasih Allah dan kemudian masih diperkenankan untuk menyampaikan teguran dan pesan kepada warga kota Niniwe (Assyur) supaya bertobat. ‘Secara terpaksa’, akhirnya ia menyampaikan nubuat ringkas kepada penduduk kota bahwa jika tidak bertobat, ‘empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggang-balikkan’. Oleh pemberitaannya yang ringkas ini, maka orang Niniwe menjadi percaya kepada Allah. Mereka bertobat dan berpuasa bahkan ternak pun ikut berpuasa (Yunus 3:5-10). Tetapi Yunus kesal, marah, dan tidak rela karena warga Niniwe bertobat, tetapi Allah mengasihi mereka (Yunus 4:1-3). Nabi Yunus berjiwa kerdil dan putus asa serta tidak ikut dalam kegembiraan Allah yang mengampuni Niniwe yang bertobat yang tadinya ‘tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri’.

Saudara-saudari, pesan utama dari Kitab Yunus, antara lain adalah: (a) Menyajikan suatu kebenaran yang mengejutkan bahwa ternyata “bangsa-bangsa lain” (‘goyim’) pun mendapat tempat di dalam hati Allah dan layak diberi kesempatan mendengar pesan Allah supaya bertobat. Kali ini, belas-kasih Allah menentang nasionalisme sempit Yahudi mengenai kasih Allah yang tidak hanya kepada Yahudi, tetapi juga kepada semua orang asalkan percaya dan bertobat dan berperilaku seturut Firman-Nya; (b) Menegaskan kebesaran dan belas kasih Allah terhadap segenap manusia dan betapa bodohnya bila mencoba membendung lautan belas-kasih Allah sebatas jiwa kerdil lagi picik. Sasaran kasih Allah tidak hanya HKBP, tetapi juga Indonesia, Asia, dan dunia; (c) Melawan pemahaman yang mempertahankan sikap eksklusivisme kasih Allah sebatas Israel, tetapi menjunjung inklusivisme kasih Allah terhadap semua umat yang mau percaya, bertobat, dan menyambut pemberitaan Sabda Allah mengenai pertobatan karena Kristus Yesus; (d) Mengkritik paham eksklusivisme sempit Israel yang sejak awal telah ditegaskan oleh Allah bahwa tugas panggilan misioner Israel sejak Abraham yaitu supaya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa dan menjadi terang penebusan bagi orang-orang yang tinggal dalam ‘kegelapan’ (Kej. 12:1-3; Yes. 42:6-7; 49:6).

Saudara-saudari, untuk menepis keraguan historisitas Kitab Yunus ini serta menanggapi sikap para ahli Taurat dan kaum Farisi yang opposan dan tidak percaya, Yesus pernah menghubungkan pemberitaan-Nya dengan Kitab nabi Yunus dan berkata: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! (Mat. 12:39-41). Artinya bahwa peristiwa Yesus Kristus adalah suatu tanda agung dan menjadi kabar gembira (Injil) bagi kita. Mari menjadi ‘merpati yang tidak ingkar janji’. Marilah kita menjadi alat-Nya untuk berbagi dan melintasi batas kepicikan dan kekerdilan ekslusivisme untuk meneruskan belas-kasih Allah di dalam Kristus Yesus. Salam.****AAZS

wajah web201903

Login Form