BERSERAH KEPADA RENCANA TUHAN

 

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu  Reminiscere, 13 Maret 2022

BERSERAH KEPADA RENCANA TUHAN

Kejadian 15 : 1 – 6

Selamat hari Minggu buat kita semua, Majelis dan jemaat Tuhan yang kekasih, yang terus setia dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan di HKBP Yogjakarta ini, kiranya kasih karunia dan rahmat dari Tuhan kita Yesus Kristus, memberkati dan mendiami kehidupan kita masing-masing. Umat Tuhan, adalah sungguh benar dan tepat jika sosok Abraham menjadi contoh dan panutan orang-orang yang percaya kepada Allah. Jika kita melihat bagaimana Abraham senantiasa percaya akan janji Tuhan yang telah disampaikan kepadanya, walaupun terkadang dia akan bertanya dalam hatinya akan janji Tuhan itu untuk menjadi bangsa yag besar, sebab sementara dia yang sudah semakin berumur masih juga belum diberikan keturunan.  Jika kita memperhatikan di pasal 14 bahwa Abram mengalahkan raja-raja di timur apakah dia sedang berfikir “untuk apakah kekayaan yang kumiliki ini jika pada akhirnya aku tidak dapat mewariskan kepada keturunannya” atau mungkin dia berfikir “bagaimana jika musuh yang dikalahkan itu kembali menyerang dan siapakah yang akan menjadi penerusnya?”. 

Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan : Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu, upahmu akan sangat besar. Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Yang indah dan menarik tatkala Allah membawa Abram keluar dan berfirman kepadanya : Coba lihat ke langit................ (ayat 5). Pada akhirnya mempercayai selalu apa yang dikatakan oleh Tuhan, itulah yang dilakukan oleh Abram dalam teks kita hari ini. Tetapi akan selalu ada proses dari "kepala yang tertunduk meragu, menjadi kepala yang menatap ke arah bintang-bintang di langit ... dan percaya."

Yang menarik adalah apa yang dinyatakan oleh Tuhan setelah melihat keputusan Abram ditengah keraguan – pesimismenya tentang masa depan hidupnya hari itu dan akhirnya memilih untuk mempercayai Tuhan. "... maka Tuhan memandang hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kejadian 15:6b). Kebenaran bagi seorang Abram dalam teks kita hari ini adalah dirinya dan istrinya sudah tidak muda lagi dan mereka belum dikaruniai pewaris keturunan dari darah daging mereka sendiri. Kebenaran bagi Abram adalah jika hal itu terus berlanjut hingga ujung usia mereka berdua, maka Eliezer, abdinya yang berasal dari Damsyik, dialah yang akan menjadi pewaris bagi Abram. Sedangkan apa yang diucapkan oleh Tuhan, dalam ayat 4-5, meskipun itu adalah kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan, sekali lagi, hari itu, apa yang dinyatakan Tuhan kepada Abram belumlah dirasakan oleh keluarga Abram sebagai sebuah kebenaran yang nyata. Masih berupa janji dari Tuhan. Maka ayat 6 menjadi sedemikian penting karena di situlah pertemuan antara kebenaran versi Abram yang teramat nyata di hari itu (mereka hari ini belum punya keturunan) dengan kebenaran versi Tuhan, yang hari itu masih berupa sesuatu yang belum nyata (mereka nanti akan memiliki keturunan). Bagaimana kita menyikapi semua kenyataan hidup kita hari ini berdasarkan apa yang dijanjikan oleh Tuhan, itulah yang akan "dilihat" oleh Tuhan sebagai kebenaran untuk mewujudnyatakan kebenaran janji-Nya terhadap hidup kita. Seperti Abram yang melihat siapa yang berjanji, yaitu Tuhan semesta alam. Maka keteguhan iman Abraham untuk mempercayai janji Tuhan bukan berasal dari dirinya, tetapi karena dia melihat Tuhan, dia melihat siapa yang berjanji kepadanya.

Umat Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari pastinya kita memiliki penilaian dan keyakinan berbeda mana yang anda percayai atau tidak ketika si A dan si B berjanji kepada anda. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari nas ini: 1. Allah persis mengetahui kerisauan yang kita alami dan Allah adalah tempat untuk kita  menyatakan seluruh kerisauan dan Allah siap untuk mendengar.  2. Iman kita akan melalui “tahap uji” ketika iman kepercayaan kita berhadapan dengan logika pikiran dan juga keinginan daging manusia. Jika kita diperhadapkan kenyataan hidup, mungkin akan muncul dibenak kita pertanyaan-pertanyaan akan kasih setia Allah dalam hidup kita, dan ini adalah ujian yang harus mampu kita menangkan untuk dapat menerima kasih setia Allah.  Kita harus percaya bahwa Iman melebihi logika manusia, di Ibrani 11: 1 dikatakan bahwa Iman adalah dasar dari harapan dan bukti dari yang tidak kita lihat. Yang harus kita ingat jangan seperti bangsa Israel yang mencobai Allah di Masa yang mempertanyakan “adakah Tuhan ditengah-tengah kita atau tidak?”. Bagaimana jawaban iman kita ditengah berbagai ujian kehidupan?   3.      Janji Tuhan itu pasti! Allah tidak akan ingkar janji. Bahwa jawaban dari kasih setia Allah itu tidak bisa langsung kita dapat seperti membalikkan telapak tangan, namun Allah akan senantiasa mengingatkan kepada kita janji setianya setiap waktu dan iman kita semakin dimurnikan dalam menerima janji itu.

Seperti halnya janji Allah kepada Abraham untuk menjadi bangsa yang besar mempunyai proses yang panjang mulai dari lahirnya Ishak hingga ke 12 anak-anak Yakub sampai kepada Musa dan sampai kepada Tuhan Yesus sebagai penggenapan janji Allah itu. Kita harus mampu mempercayai kasih setia Allah ditengah-tengah kehidupan kita, bahwa Allah senantiasa bekerja memperhatikan dan membimbing kita kepada kasih setiaNya itu. Ada sebuah jarak antara kebenaran kita hari ini (ayat 2-3) dengan kebenaran janji Tuhan bagi kita (ayat 4-5). Dan sikap kita, sebagaimana sikap Abram yang telah ditunjukkan kepada Tuhan (ayat 6); Itulah saat di mana dia sedang membangun jembatan baginya untuk terus berjalan menggapai kebenaran janji Tuhan bagi hidupnya, disitulah keberserahan Abram pada Tuhan yang menyatakan janjiNya kepadanya.  Kita hari ini bukan hanya perlu, tetapi harus membangun sikap kita yang benar dalam menghadapi semua kenyataan hidup kita hari ini. Sebab itulah bahan-bahan kita untuk membangun jembatan yang akan membuat kita sampai pada penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita. Lihatlah bagaimana kita bersikap dengan kenyataan kita hari ini. Dalam keluarga, jemaat, atau bahkan masa depan hidup kita semua hari ini. Apakah Tuhan akan memperhitungkan juga semua sikap kita dalam menghadapi semua kenyataan pahit yang kita alami dalam hidup kita hari ini sebagai sebuah kebenaran?

Kebenaran Tuhan adalah Tuhan akan terus menyertai dan menggenapi janji-janji-Nya bagi kita. Apa yang Tuhan janjikan bagi hidup kita? Bukan malapetaka, melainkan rancangan damai sejahtera bagi masa depan hidup kita. Apa yang kita pandang hari ini sebagai "malapetaka" bagi kita, dengan sikap yang benar, maka kita akan bisa berjumpa dengan indahnya penggenapan janji Tuhan di dalam hidup kita. sebab itu marilah terus berserah kepada Tuhan, kepada penyataan-penyataan Tuhan, kepada janji-janji Tuhan, dan Dia sanggup melakukannya dalam cinta kasih dan kebaikanNya. Tuhan memberkati. BWP.

wajah web201903

Login Form