BERTOBAT SUPAYA TIDAK BINASA

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu  Okuli, 20  Maret 2022

BERTOBAT SUPAYA TIDAK BINASA

Lukas 13 : 1 - 9

 Selamat hari dan salam sehat buat Parhalado, Jemaat, Alumni, Pemerhati dan para Pecinta HKBP Yogjakarta, para Mahasiswa/i yang mempersiapkan sesuatu yang indah di kota Yogjakarta ini, kiranya damai sejahtera dan belaskasih dari Tuhan kita Yesus Kristus memberkati kita sekalian. Selamat menikmati persekutuan di minggu ini, bersama sesama keluarga dan sesama orang percaya, mari terus bersekutu, bersaksi dan melayani seturut dengan kehendak Tuhan. Umat Tuhan,  “Jika Anda berbuat baik, maka Anda akan diberkati, tetapi jika Anda berdosa, maka Anda akan di hukum”. Pemahaman seperti ini sudah lama dipercayai oleh banyak agama-agama kuno, bahkan orang Yahudi sendiri pun memiliki pemahaman yang seperti ini, sebagaimana yang tertulis dalam Keluaran 20:5 bahwa Tuhan adalah pencemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya. Bahwa ada kutuk dan berkat Tuhan dalam kehidupan manusia. Namun apakah memang demikian? Maka kita akan belajar dari pengajaran Tuhan Yesus dalam nas ini: Ayat 1-5 Dalam nas ini ada dua kisah, yang pertama adalah kisah yang diberitakan kepada Yesus tentang beberapa orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus ketika mereka memberi persembahan kepada Allah. Tuhan Yesus menanggapi dengan pernyataan: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu” Tetapi kemudian Tuhan Yesus menambahkan lagi kisah yang hampir mirip dengan kisah yang ditanyakan itu, yaitu ketika delapan belas orang yang mati tertimpa menara di Siloam. Yesus juga menanggapi kisah itu dengan pernyataan:” sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu.”

Apakah kejadian tragis itu adalah akibat dari dosanya, itu bukan urusan kita, itu adalah urusan Tuhan kepada setiap orang, sehingga kita tidak bisa menghakimi orang yang terkena musibah dengan mengatakan bahwa itu adalah karena dosanya. Yang hendak diajarkan Tuhan Yesus kepada kita adalah seperti yang dikatakannya dalam nas ini: “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian”, apa artinya?

       Pertema : Kita tidak bisa menganggap diri lebih benar, lebih baik, lebih kudus ketika kita tidak mengalami kejadian tragis atau penderitaan seperti yang dialami orang lain. Mungkin saja hari ini kita baik-baik saja, tetapi besok apa yang terjadi kita tidak tahu, mungkin kita juga akan mengalami nasib yang sama dengan orang yang mengalami kejadian tragis tersebut. Kedua : Sikap yang sepatutnya kita miliki adalah melihat kejadian tragis itu menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi kita untuk mau bertobat, sebab Tuhan masih memberikan kesempatan hidup bagi kita. Apa yang terjadi pada orang lain seharusnya menjadi peringatan untuk melihat diri kita sendiri, kita adalah sama-sama manusia yang berdosa, tetapi ada orang lain yang mengalami kejadian yang tragis, sementara kita masih diberi Tuhan kesempatan hidup. Seperti yang tertulis dalam Pengkotbah 7:2  “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Sekarang seorang dari antara kita meninggal, seharusnya kita mau merenungkan bahwa kita juga pasti akan meninggal, seharusnya kita akan semakin takut kepada Tuhan melalui pertobatan.

Ayat 6-9 Yesus semakin mempertegas lagi penjelasannya dengan perumpamaan tentang pohon ara yang sudah tiga tahun tidak berbuah. Pemilik kebun berencana untuk menebangnya karena tidak kunjung menghasilkan buah. Namun tukang kebunnya memberikan nasehat supaya ditunggu setahun lagi dengan memberikan pupuk dan memperbaiki tanahnya, jika memang tidak berbuah juga barulah ditebang. Dari perumpamaan ini Tuhan Yesus hendak menjelaskan bagaimana manusia yang berdosa itu seperti pohon ara yang tidak berbuah, Tuhan sudah memberikan banyak kesempatan untuk bertobat dari dosanya tetapi tetap juga tidak bertobat. Seharusnya orang berdosa itu sudah harus mati karena dosanya, tetapi Tuhan masih mengasihi manusia dengan memberikan kesempatan untuk bertobat. Tetapi seperti perumpamaan tadi, pohon ara itu bukan hanya diberikan kesempatan untuk berbuah tetapi diberikan juga pupuk dan memperbaiki tanah tempatnya bertumbuh supaya menghasilkan buah. Maka demikian juga dengan kita, kita tidak hanya diberikan waktu, tetapi juga diberikan kasih yang besar kepada manusia melalui pengorbanan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus, supaya setiap orang tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Seperti nyanyian rohani yang sudah sering kita dengarkan “hidup ini adalah kesempatan......jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri”. Seperti pohon ara tadi yang dibesarkan, dirawat, dijaga adalah supaya saatnya akan memberikan buahnya yang lebat. Maka demikian juga dengan kita, Tuhan memberikan kepada kita kasihNya, kebaikanNya, berkatNya dan berbagai hal yang baik Tuhan berikan kepada kita adalah supaya kita menghasilkan buah yang banyak, tetapi jika kita tetap juga tidak berbuah, maka kita akan seperti pohon ara yang tidak berbuah yang akan ditebang, yaitu kebinasaan yang kekal selamanya. Karena itu marilah kita bersedia untuk mengalami dan melakukan pertobatan. Tuhan memberakti. BWP.

wajah web201903

Login Form